❓Apakah silaturahim sama dengan silaturahmi?

• Ada yang mengatakan, bahwa perbedaan keduanya tidak perlu dipermasalahkan karena maknanya sama saja. Karena ada kaidah yang ditetapkan para ulama,
لا مشاحة فى الاصطلاح
“Tidak perlu ada perdebatan dalam istilah”
Artinya, selama maknanya sama, maka hal itu tidak jadi masalah.
• Namun bila kita kembalikan kepada makna masing-masing, ada perbedaaan antara keduanya;
✅ Kalau kata “Silaturahim” memiliki makna yang sangat terkait erat dengan “hubungan satu rahim”, yaitu kekeluargaan/karib kerabat.
Maka makna “Silaturahim” ialah menyambung dan berbuat baik kepada orang-orang yang memiliki hubungan karib kerabat/kekeluargaan dengannya, sehingga orang-orang yang tidak memiliki hubungan kekerabatan dengannya bukanlah yang dimaksudkan dalam ayat-ayat dan hadits-hadits mengenai perintah serta keutamaan silaturahim.
✅ Sedangkan “Silahturahmi” maknanya dalam bahasa arab berasal dari 2 kata, (صلة) shilah artinya hubungan/pertalian, dan (الرَّحْمِ) ar-Rahmi ada yang mengatakan maknanya diambil dari kata-kata (الرحمة) ar-Rahmah, yang artinya kasih sayang.
Sehingga secara umum “Silaturahmi” artinya ialah “hubungan kasih sayang” dalam bentuk umum baik kepada karib kerabat maupun selainnya.
Dan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, silaturahmi dimaknai: silaturahmi/si·la·tu·rah·mi/ n tali persahabatan (persaudaraan)
Maka kesimpulannya:
Kalimat “silaturahmi” memiliki makna yang lebih luas dari kalimat “silaturahim”. Dan bukan berarti menggunakan kata silaturahmi, yang bermakna, hubungan kasih sayang/persaudaraan, hal itu dilarang!
Namun hendaknya tidak mengaitkannya dengan perintah dan keutamaan “silaturahim” yang memiliki keutamaan khusus dalam Islam, karena keduanya adalah hal yang berbeda. Wallahu ta’ala a’lam
![]() |
| SEPATU NEW BALANCE (NB) 1906R |
🚨 Salah kaprah dalam menerapkan “Silaturahim atau Silaturahmi”
Sebagian orang salah paham dalam memaknai silaturahim atau silaturahmi, seperti,
1. Menggunakan dalil-dalil tentang silaturahim pada perbuatan yang bukan silaturahim
Misalnya menggunakan dalil-dalil tentang silaturahim untuk mengajak orang mendatangi acara reuni sekolah, acara kumpul-kumpul, dan semisalnya.
Lalu meyakini bahwa acara-acara ini memiliki keutamaan memanjangkan usia, meluaskan rezeki, menjadi sebab masuk surga, yang merupakan keutamaan-keutamaan silaturahim. Tentu ini tidak tepat.
2. Menggunakan dalih silaturahim untuk perbuatan yang dilarang agama.
Misalnya dengan dalih silaturahmi mendatangi acara karokean, merayakan ulang tahun seseorang, acara kumpul-kumpul bersama teman yang campur-baur antara lelaki dan wanita, dan sebagainya. Sehingga perbuatan-perbuatan yang dilarang agama tersebut disamarkan dengan nama silaturahmi yang merupakan kebaikan.
3. Menggunakan dalih silaturahim sehingga enggan meninggalkan keburukan.
Misalnya enggan meninggalkan teman-teman yang buruk yang sering mengajak kepada maksiat dan hal-hal tidak bermanfaat dengan dalil tidak mau memutus tali silaturahim. Enggan berhenti berpacaran dengan dalil bahwa “putus” dengan pacar itu berarti memutus tali silaturahim. Enggan menolak ajakan teman untuk nongkrong tanpa manfaat dan berfoya-foya karena dalih takut memutus tali silaturahim.
Semua ini adalah kesalah-pahaman dalam memaknai silaturahmi. Sehingga tidak berlaku perintah dan keutamaan-keutamaan silaturahim di dalamnya.

Posting Komentar untuk "Silaturahim vs Silaturahmi: Apakah Sama atau Berbeda?"