KESERAKAHAN DALAM MENUMPUK HARTA - bhazirmedia.my.id

KESERAKAHAN DALAM MENUMPUK HARTA

 KESERAKAHAN DALAM MENUMPUK HARTA


📝 Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah

Keserakahan juga sering terjadi dalam hal menumpuk harta. Hal itu merupakan kegilaan yang dingin jika kadarnya melebihi kebutuhan. Sebab pada hakikatnya hartanya itu bukan dimaksudkan untuk dirinya, tapi dimaksudkan untuk orang lain. 

Tidak ada salahnya memang seorang mengumpulkan harta untuk memenuhi kebutuhannya sendiri supaya ia bisa mencukupi dirinya tanpa bergantung kepada manusia, dan bisa mencukupi kebutuhan anak-anaknya, serta memberikan sebagiannya kepada orang-orang yang membutuhkan.

Hanya saja, setelah memperoleh harta yang cukup, tidak semestinya bagi orang yang berakal untuk menyia-nyiakan waktunya yang berharga atau membahayakan nyawanya yang tak ternilai hanya untuk melakukan safar demi safar dan berlayar mengarungi lautan (untuk mengumpulkan harta).

Sungguh, betapa indahnya apa yang diucapkan seorang penyair,

Siapa yang menghabiskan hari-hari umurnya untuk menjadi dermawan,

Karena ia takut miskin, justru tindakannya itu adalah kemiskinan.

Banyak sudah aku lihat dan aku dengar tentang orang-orang yang sangat hemat dalam menafkahi dirinya, bahkan hingga usianya tua ia masih tetap mengarungi lautan untuk mencari penambahan harta, menurut persangkaannya, namun nahas ia mati dalam perjalanannya dan belum meraih sebagian dari tujuannya.

Penyakit ini perlu untuk diobati dengan memandang sekilas tujuan dari harta, dan menimbang antara bahaya yang dihadapi dengan sesuatu paling berharga yang dimilikinya, yaitu nyawa dan waktu. 

Siapa yang mengajak musyawarah akalnya ia akan memahami maksud dari harta, namun siapa yang terkalahkan oleh penyakit keserakahan ini maka ia akan binasa di tengah sahara keserakahan. Dan tiada diwariskan melainkan pelana dan hewan tunggangan.

Terkadang keserakahan juga terjadi pada hal-hal apa saja yang seorang merasa menikmati dengannya, dari mendirikan bangunan, kuda pilihan, pakaian-pakaian kebanggaan, dan selain dari itu. 

Penyakit ini asalnya adalah berasal dari memperturuti hawa nafsu.

Untuk mengobati penyakit ini adalah dengan memahami perkara-perkara berikut ini;

1. Bahwa hisab untuk usaha yang halal saja itu sudah berat dan susah (apalagi yang haram).

2. Perbuatan menghambur-hamburkan harta itu dilarang.

3. Bahwasannya Allah tidaklah melihat kepada orang yang menarik bajunya dengan sombong.

4. Memahami bahwa segala sesuatu dari seorang mukmin itu diberi pahala kecuali pada mendirikan bangunan (yang mubah).

Telah disebutkan dalam sebuah atsar bahwasannya Nuh alaihissalam tinggal selama sembilan ratus lima puluh tahun di rumah yang terbuat dari bulu, Rasulullah ﷺ juga tidak pernah meletakkan batu bata di atas batu bata (mendirikan bangunan), dan bahkan disebutkan baju Umar bin Khattab memiliki dua belas tambalan. Mereka adalah orang-orang yang memahami bahwasannya dunia itu ibarat sahara yang luas, sedang sahara itu tidaklah layak untuk dijadikan tempat tinggal.

Maka siapa yang terluput dari ilmu ini niscaya ia akan terjangkit penyakit serakah, dan untuk mengobatinya adalah dengan merenungkan ilmu dan memerhatikan kisah-kisah hidup para ulama.


📚 Ath-Thibbur Ruhani


Posting Komentar untuk " KESERAKAHAN DALAM MENUMPUK HARTA"